DOWNLOAD HERE
IKLAN

Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi

Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi - Hallo sahabat Halaman Adeung, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Menulis nikmat, Artikel Tips, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi
link : Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi

Aku ingin menjadi penulis novel! Begitulah teriakkan seorang anak muda. Memang belakangan ini banyak sekali bermunculan penulis-penulis muda yang berbakat. Ada yang menulis di blog atau media menulis lainnya. Mereka semua memiliki ide yang tanpa batas. Bahkan pengalaman pribadinya pun bisa menjadi inspirasi untuk dituliskan, menurut mereka. Memang menulis cerita yang pribadi mungkin lebih mudah karena sudah dimengerti dan bisa saja lebih terasa saat menuliskannya. Apalagi kalau hidupnya memang penuh drama, mantap bukan jika dituliskan.


Namun pertanyaannya sekarang, apa kamu yakin kisah hidupmu seseru yang kamu perkirakan? Atau jangan-jangan hanya menurut kita saja karena mengalaminya. Kamu yakin pembaca akan menganggap kisahmu menarik? Hemmmm, mungkin saja malah membosankan bahkan baru di halaman pertama.

Tapi kamu jangan langsung pesimis, tidak ada yang salah dengan menulis kisah nyata menjadi sebuah novel. Jika kamu sudah sepenuhnya yakin banyak konflik dan drama di kehidupanmu, yasudah tuliskan saja. Mungkin akan ada sedikit rasa curhat, tinggal bagaimana kamu meramunya saja agar tersamarkan.

Ketahuilah banyak penulis pemula yang memulai dengan menuliskan kisah pribadinya untuk menjadi sebuah novel. Berusaha menulis dengan apa adanya sesuai dengan keadaan asli. Tapi karena itulah malah menyebabkan pembaca jadi kebingungan karena beberapa hal.

Mau tau apa saja itu? Ok, disimak ya.
Beberapa kesalahan penulis pemula yang menuliskan kisah pribadi;

  • Berusaha menulis setiap adegan yang dialami sesuai kejadian yang sebenarnya. 

Menulis setiap adegan dengan sangat detail dari awal secara berturut itu boleh saja. Mungkin kamu merasa ada banyak kenangan yang berkesan. Tapi masalanya sudah berapa tahun kamu hidup? Anggap saja udah puluhan tahun, cukup panjang bukan. Sudah pasti sepanjang perjalanan hidupmu banyak kejadian yang kamu alami.

Untuk menuliskannya menjadi novel, kamu tidak perlu menuliskan secara berurutan dan sangat detail. Kamu hanya cukup mengambil bagian yang penting saja agar alur ceritamu kuat. Percayalah, kalau kamu tetap bersikeras ingin menuliskan semuanya, pembacamu akan bosan karena pasti ada pengalamanmu yang tidak penting tapi kamu paksakan untuk ditulis.

Bukan berarti karena tidak menuliskan secara berurutan, kamu malah membuat ceritanya melompat. Maksud dari jangan menuliskan beruturan itu, jangan menuliskan apa yang tidak penting. Sementara jika kamu rasa penting untuk membangun sebab dan akibat. Iya silakan dituliskan. Keseringan penulis kisah nyata yang masih pemula, sering menuliskan apa adanya sampai yang tidak penting juga dituliskan.

  • Kebanyakkan tokoh

Tokoh yang terlalu banyak sepertinya sudah pasti. Kecuali kamu hanya hidup seorang diri tidak mengenal siapapun kecuali dirimu sendiri. Tokoh ini bisa saja terus berganti seiring berjalannya waktu. Untuk penulisan novel, tidak perlu kamu menuliskan semua tokoh itu meski mereka ada dalam kehidupanmu. Tampilkan saja tokoh yang memang penting di dalam ceritamu. Jangan buat pembaca malah pusing tujuh keliling karena terlalu banyaknya tokoh dalam ceritamu.

Namun, bukan berarti tidak boleh banyak tokoh. Boleh-boleh saja jika kamu cukup hebat untuk menghidupkan setiap karakter dari mereka. Jika itu bisa kamu lakukan, sudah pasti novelmu akan kaya. Tapi, jika kamu masih belum terlalu mahir menghidupkan setiap karakter, ada baiknya kamu menghindarinya.

Ingat! Tokoh yang kamu buat harus punya tujuan dan andil serta pengaruh dalam cerita yang kamu buat. Bukan hanya sekedar menjadi pemanis saja yang kalaupun dihilangkan tidak berpengaruh sama sekali.

  • Cerita terlalu didramatisir

Karena sejak awal sudah mengira kisah hidupmu menarik namun kenyataannya saat dituliskan tidak menarik sama sekali. Jika sudah kenyataannya begitu adanya iya sudah tuliskan saja. Di saat inilah kemampuan kamu merangkai kata akan diuji. Bagaimana kamu memilih kata yang tepat hingga cerita yang tidak menarik itu memiliki rasa. Dan pembaca dapat menangkap rasa tersebut. Tapi, jangan berlebihan. Sesuai porsinya saja agar tidak malah karena berniat mendramatisir cerita menyebabkan cerita berubah dari yang sebenarnya. Tetap semua harus masuk akal.

  • Semua konflik dimasukkan

Dalam cerita novel, konflik memang penting. Tapi bukan berarti kamu harus memasukkan semua konflik yang kamu alami. Cerita kamu harus tetap memiliki konflik utama. Sementara konflik yang lain cukup menjadi pelengkap saja. Jangan semuanya konflik utama.

Tapi hidup saya banyak konflik yang saya alami? Kalau saya tidak tuliskan takut malah jadi tidak sesuai.

Ok, mungkin hidupmu banyak sekali konflik. Dan mungkin juga semuanya luar biasa. Tapi, kamu cukup pilih satu saja dari sekian banyaknya itu.

Yang mana harus dipilih?

Pilihlah konflik yang merubah hidupmu dan karaktermu. Jadikan konflik itu yang utama dan konflik lainnya sebagai pelengkap. Dari sekian banyak konflik yang kamu alami itu, pasti ada satu yang memberikan perubahan besar dalam hidupmu.

Ingat! Kamu sedang menulis cerita pengalaman pribadi. Mungkin kamu belum tau endingnya seperti apa. Jadi kamu bisa kok menerka endingnya harus bagaimana.

  • Karakter tokoh tidak jelas

Karena mengenal masing-masing tokoh di dalam cerita. Malah membuat sang penulis tidak dapat menggambarkan tokoh dengan jelas. Ada yang dilupakan oleh sang penulis, bahwa tokoh itu hanya dirinya saja yang mengenal. Sementara pembaca tidak mengenal sama sekali. Nah, ada baiknya gambarkan karakter setiap tokoh dengan jelas. Dari fisik hingga kebiasaan yang sering dilakukan, karena itu bisa menjadi ciri khas masing-masing tokoh.

Sementara untuk tokoh utama. Hindari karakter yang sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Tokoh tersebut harus sesuai kenyataannya baik dan buruknya. Jika tokohnya diri sendiri mungkin malu atau takut menuliskan kekurangan. Hingga hanya yang kesempurnaan saja yang dituliskan. Jika itu benar, ada baiknya dipilih dulu apa baiknya dan buruknya lalu seimbangkan.


Saya rasa cukup segitu saja. Jangan lakukan kesalahan di atas ya. Menulis sebuah cerita dari kehidupan pribadi bukan berarti kamu harus menuliskannya secara mentah. Kamu tetap dapat harus meramunya dengan cukup baik. Agar jalan cerita tetap sesuai dan pembaca betah membacanya.

Semoga apa yang saya tuliskan ini bermanfaat. Jika ada kekurangan maafkan ya.


Demikianlah Artikel Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi

Sekianlah artikel Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Kesalahan Saat Menulis Novel Kisah Pribadi dengan alamat link https://adeung.blogspot.com/2018/08/kesalahan-saat-menulis-novel-kisah.html


Jangan Lupa Bagikan Halaman Ini

Tidak Ada Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel