6 Prinsip Menulis Fiksi
6 Prinsip Menulis Fiksi - Hallo sahabat Halaman Adeung, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul 6 Prinsip Menulis Fiksi, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Menulis nikmat, Artikel Tips, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.Judul : 6 Prinsip Menulis Fiksi
link : 6 Prinsip Menulis Fiksi
Belakangan ini, mulai banyak sekali orang yang minat dalam dunia menulis. Terutama menulis fiksi. Iya, memang sepertinya banyak ingin menjadi penulis. Mau itu sekedar mengeluarkan unek-unek, atau memang bertujuan menjadi penulis profesional.
Tapi masalahnya banyak pertanyaan yang sering saya dengar.
Bagaimana jika tidak ada ide buat dituliskan? Apa pertanyaan itu sama dengan pertanyaanmu. Apa kamu juga pernah merasa takut kehabisan ide? Atau malah sebaliknya.
Jika kamu takut kehabisan ide, ketahuilah bahwa ide bisa didapatkan dari sekitar kita. Atau malah sudah ada di diri kita. Namun, terkadang kita suka mencari-cari yang sulit ditemukan. Daripada mengolah apa yang sudah ada dalam diri kita atau sekitar kita.
Pertanyaan sekarang bagaimaa caranya?
Oke, ada beberapa prinsip untuk dapat mengolah ide:
Satu:
Mungkin kamu sudah pernah dengar atau baca. Kalau, penulis yang baik ialah pengamat yang baik.
Saat kamu sebagai seorang penulis, maka kamu secara sekaligus menjadi pengamat. Untuk menjadi pengamat yang baik, maka kamu harus memiliki ketertarikan dan kepekaan pada banyak hal.
Bingung maksudnya apa?
Begini sederhananya. Jika kamu memiliki ketertarikan pada objek tertentu yang mungkin dianggap biasa oleh sebagian orang. Itu bisa kamu jadikan ide untuk sebuah cerita.
Kamu harus memiliki kepekaan terhadap sesuatu yang mungkin remeh, jangan pernah membatasi ketertarikan pada sesuatu.
Setelah membaca ini. Mulailah menjadi pengamat yang memiliki kepekaan. Buka mata dan telinga. Cukup memulai dengan kamu perhatikan sekitarmu. Apa ada yang bisa kamu jadikan cerita? Jangan terlalu sibuk memilah apa yang hanya menarik bagimu. Karena mungkin saja, yang tidak menarik bagimu ternyata menarik bagi orang lain.
Kedua:
Jadikan realita yang ada sebagai bahan mentah.
Jika Aristoteles beranggapan seorang sastrawan tidak semata-mata meniru kenyataan. Tapi menciptakkan dunia baru dengan sebuah kreativitas. Bagaimana sang pengarang menciptakan dunia yang ideal, dunia yang mungkin dan dapat terjadi, meski sebenarnya tidak pernah terjadi.
Sementara menurut Plato bahwa sastra ialah cerminan dari kenyataan.
Jika kamu, mengacu pada Aristoteles maka pendapatnya menjelaskan bagaimana pengarang dapat membuat pembaca mengira kalau tulisan tersebut dari kenyataan. Bisa dibilang, Realitas dalam dunia fiksi hanyalah bahan mentah untuk menciptakan dunia baru yaitu dunia fiksi.
Ketahuilah, kenyataan hidup yang kita alami bukan sudah jadi, tapi masih mentah. Nah, tinggal bagaimana kita mengolahnya agar enak dinikmati.
Ketiga:
Buku kecil untuk tempat mencatat. Tapi jika kamu tidak suka membawa buku kecil, iya ganti saja dengan ponsel. Kamu pasti suka bawa ponselkan?
Berapa usiamu? Sepanjang kehidupanmu apa saja yang kamu ingat? Coba tuliskan saja semua yang kamu ingat, jangan mencemaskan itu ide yang baik atau buruk. Tuliskan saja semuanya yang kamu ingat.
Mulai lakukan pengamatan dan catat. Karena semua itu bisa menjadi bahan cerita yang dapat kamu tuliskan.
Keempat:
Ayo berimajinasi. Kamu pasti suka berimajinasi.
Yup! Imajinasi. Kamu mungkin merasa memiliki bakat dan sangat rajin belajar menulis fiksi. Tapi ketahuilah, tanpa imajinasi apa yang kamu tuliskan hanya sebuah pemberitaan saja.
Imajinasi itu untuk bisa menghadirkan kenyataan dalam pendengaran, penglihatan, perabaan, gerak.
Untuk membuat sebuah gambaran yang utuh, kamu membutuhkan imajinasi. Walau kamu mungkin sudah menyusun plot-nya. Imajinasi kamulah yang akan membentuk plot menjadi sebuah rangkaian peristiwa, seperti tokoh, dan adegan.
Kelima:
Banyaklah membaca.
Dalam perjalanan menulismu. Mungkin kamu akan mengalami kebuntuan. Mendadak tidak tau harus melanjutkan seperti apa, karena merasa kehabisan ide.
Tapi, jika kamu suka membaca. Kamu tidak akan kesulitan melewati itu. Ada beberapa orang mungkin malas membaca fiksi karya orang lain. Setiap ditanya, dia menjawab karena takut idenya terkontaminasi dan tidak menjadi orisinal.
Hem! Bagaimana dia bisa menjamin kalau yang ditulisnya orisinal, sementara dia tidak membaca karya orang. Bagaimana dia tau kalau yang ditulisnya tidak pernah ditulis orang lain? Janganlah mengurung diri.
Ketahuilah tidak ada ide yang baru. Hanya yang ada bagaimana cara menceritakannya dengan berbeda.
Tanpa membaca. Kamu akan kesulitan untuk mengembangkan ceritamu. Apalagi jika yang kamu tulis adalah apa yang kamu tidak kuasai, contoh; kamu menulis tentang seorang dokter, tapi kamu bukan dokter. Lalu seperti apa kamu akan menuliskannya, jika kamu saja tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan seorang dokter. Dan bagaimana dia bekerja.
Jadi, sebagai seorang penulis. Kamu tidak bisa menghindar untuk menjadi juga seorang pembaca.
Keenam:
Ayo, mulailah menulis.
Menulis, menulis, dan menulis! Mungkin kata-kata itu sudah bosan kamu dengar dari banyak penulis yang kamu tanya.
Tanpa mulai menulis, semua yang ada di atas. Hanya akan menjadi percuma.
Mulailah menulis!
Hanya itu saja yang bisa saya jabarkan. Jika ada kekurangan mohon maaf. Dan jika ada yang belum dipahami, saya dengan senang hati bisa diajak berdiskusi. Jika kamu rasa artikel ini bermanfaat silakan sebar keteman-teman yang suka menulis.
Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Tidak Ada Komentar